Carilah Pasangan yang Sholeh dan Sholehah, Jangan Asal Milih !

"Jadilah istri yang sholihah, qonitah, hafizhoh, karena suksesnya anak dimulai dari kualitas ibu. Jadilah suami yang qowwamun: bijak, tanggung jawab, lemah lembut, tidak sok menjadi suami, tidak menzholimi istri." (Abi Ihya)

Image: Brilio.net


Dalam rajutan pernikahan, termasuk satu tujuan darinya yaitu mendapatkan keturunan yang saleh salehah, keturunan yang dapat membanggakan agama dan bangsa.

Seseorang dinilai telah melakukan kezhaliman kepada anak, jika saat akan menikah ia sembarangan dalam memilih sosok calon ibu bagi anak-anaknya, kemudian anaknya besar dalam pendidikan yang salah, maka pihak yang awal kali dinilai melakukan kezhaliman kepada anak adalah pihak suami, sehingga memilih dan menemukan calon pendamping tidak boleh secara sembarangan dan serampangan, sebab yang paling berpengaruh terhadap karakter dan kepribadian anak adalah sosok ibu, bukan ayah.

Memilih calon kekasih yang perlu menjadi pertimbangan paling penting adalah sisi keshalehahannya, shalihah berarti wanita yang baik-baik, istiqamah dalam menjalankan agama, memiliki rasa malu yang besar, tidak neko-neko dan nriman dengan pemberian, tidak banyak menuntut sesuatu yang diluar kemampuan, patuh terhadap Allah dan suami, mampu menjaga kehormatan dirinya dan keluarga, mengelola harta suami dengan bijaksana, serta pintar membahagiakan suami.

Seorang lelaki adalah qowwamun, yakni menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam mendidik akhlaq istri, tentu saja dengan kelembutan dan kasih sayang, bukan malah tidak berani dan takut dalam meluruskan watak dan sikap istri yang salah.

Tidak sok berarti tidak otoriter dalam membangun hubungan apalagi sampai pada tingkat menzhalimi.

Pada kondisi tertentu, memang sebagai suami dibenarkan mendidik istri sampai pada tingkat memukul, tentu saja dengan runtutan cara pendidikan istri yang berlaku.

Seorang lelaki ibarat menteri luar negeri sementara istri sebagai menteri dalam negeri. Maka harus tercipta harmoni yang indah dan ekselen. Semua mesti dijalankan atas dasar cinta, tidak hanya saling menuntut hak masing-masing.

Pada akhirnya keluarga bisa terbentuk menjadi keluarga yang harmonis. Kita mengerti bahwa, tidak ada ibadah kasih sayang yang lebih indah ketimbang rajutan pernikahan. Maka beribadahlah melalui jalur ini demi meraih ridlo-Nya azza wajalla.

Akhir catatan bahwa, kesuksesan seorang lelaki amat dipengaruhi oleh peran wanita shalihah dibelakangnya, dan sebaliknya, kehancurannya amat sangat dipengaruhi oleh peran wanita tholihah dibelakangnya.

Maka jika kita menginginkan kesuksesan dalam hidup, awal kali hal yang harus kita lakukan adalah menimbang secara matang siapa wanita yang akan menemani hidupmu.

Wallahu a'lam

Postingan terkait: